Archive for the 'Voce del Cuore' Category
June 24th, 2010 -- Posted in Voce del Cuore |

Pick your star and reach for it (painting credit to Vina Puspita)
Akhirnya baru berani lg nulis di blog ini. Setelah sekian lama tak berani melirik karena foto Brownies yg selalu mengingatkan saya pada anjing pertama saya itu.
Well, kali ini yang ingin saya tulis adalah bertemakan ‘Reach your own star’. Istilah ini saya gunakan karena berkaitan dengan keadaan di sekitar saya. Sejak kecil kita terbiasa dengan pepatah ‘Gantungkan cita-citamu setinggi langit’, istilah itu saya kaitkan kata ‘langit’ dengan ‘bintang’ (bukankah di langit ada bintang?). Banyak lagi pepatah lain yang bertujuan untuk memompa semangat kita untuk meraih cita-cita (aka impian).
Lukisan diatas adalah karya teman kerja saya, Vina Puspita. Selama setahun lebih juga saya bekerja bersama dengan dia dan Handwita (Wita). Bersama dua orang ini saya belajar banyak, mendesain, menggambar, menguras otak hingga berbagi curahan hati. Dan melalui dua orang ini pula saya belajar untuk BERMIMPI (baca: bercita-cita). Sejak awal saya mengenal Vina, ia sudah melanglangbuana ke Belanda untuk studi. Dan beberapa bulan ke depannya, tak jarang ia melakukan perjalanan ke luar Indonesia. Saya sendiri mencoba mengamati Vina dan mengenali lebih dalam, cita-cita Vina dari yang saya tangkap dengan pembicaraan simpang siur antara kami bertiga, adalah ingin mengelilingi dunia sebagai backpacker. Dan saya sangat salut karena di umurnya yang tergolong muda, Vina sudah mulai membangun jalan untuk meraih bintangnya, berkeliling dunia.
Handwita, teman kerja saya yang lain yang juga adalah seorang desainer, ia bercita-cita membangun bisnis sebuah majalah. Dan pekerjaannya kala itu adalah langkah awal baginya merintis jalan menuju cita-citanya. Melihat kedua teman kerja saya yang sudah membuka jalan mereka masing-masing untuk meraih mimpi mereka, membuat saya berpikir, apa cita-cita saya? Kepada keempat sahabat saya, saya selalu berkata, ‘Gw klo udah nikah pengen buka toko kelontong di depan rumah dan jadi ibu rumah tangga yang baik.’ Benarkah cita-cita saya sebatas itu?
Bekerja di media cetak yang erat hubungannya dengan fashion membuat saya menyadari kecintaan saya pada dunia tersebut. Tidak, saya tidak bercita-cita menjadi fashion stylist, bagi saya cukup bila menjadi pemuja pakaian, sepatu dan parfum merk-merk ternama dunia. Saya pun sangat puas dengan selera berpakaian saya yang ’sesuka hati’ dan ‘tabrak motif’. Tapi fashion merupakan passion saya, fashion adalah bagian keseharian saya. Bagi saya, Milan bukanlah kota kelahiran fashion, tapi New York adalah lambang fashion sejati. Mau bukti? Lihat saja film seri Sex and the City. Dibalik ceritanya yang penuh konflik, bukankah kita memperhatikan pakaian apa yang dipakai Carrie saat turun dari taksi? Dan bukankah semua model mengawali karirnya dari New York? Nilan mungkin terlalu jauh saya raih, tapi New York? Bukan tidak mungkin saya menjangkaunya.
Handwita memang sudah tidak lagi bekerja bersama kami, Vina mungkin akan pergi untuk mewujudkan mimpinya, dan saya? Saya sudah terlanjur mencintai dunia desain, dan saya akan menjalaninya sampai saya merasa cukup. Formasi 3 desainer b’girl! mungkin sudah berubah, tapi mimpi kami tidak akan berubah. Vina dengan mimpinya berkeliling dunia, Wita dengan cita-citanya membangun bisnis majalah dan saya mencoba meraih bintang saya, menginjakkan kaki ke kota berjulukan Big Apple.
So, let’s reach your own star!!!
March 24th, 2009 -- Posted in Voce del Cuore |
When everyone around you is messing you up,
But you have to keep on good
Â
When People around you is breaking down,
But you have to stand tall
Â
When you have nobody to hold on,
But you still have yourself to rely on
Â
When people tell you to pull back,
But you’ve got to move on
Â
When there’s seems no way out,
But you still have a hope
Â
When the one you love leaving you alone,
But you gotta be strong
Â
Don’t stop! Just take a rest.
You may cry but not beg.
Find the answer deep down in your heart.
January 27th, 2009 -- Posted in Voce del Cuore |

Postingan kali ini saya persembahkan kepada hewan peliharaan saya yang bernama Brownies Esteban yang baru saja meninggal tgl 26 Januari kemarin. Brownies merupakan anjing yang berusia paling tua di antara kelima anjing yang saya pelihara. Â Foto yang saya pasang adalah foto terakhir yang saya ambil ketika ia sakit. Dengan senang hati saya merelakannya tidur di tempat tidur saya. Di foto ini ia sudah terlihat lemah karena sakit lambung yang di deritanya selama beberapa hari sebelum ia meninggal.Â
Brownies meninggal ketika saya tidak sedang berada dirumah, hari itu Brownies memang terlihat lebih lemah dari sebelumnya. Karena malam sebelumnya saya sempat mendengar ia berteriak kesakitan dan kembali memuntahkan makanannya. Dan di pagi hari pun saya sempat menggendong Brownies untuk dibawa ke tempat ia bisa berbaring. Dan lagi-lagi saya mendengar tangisan ketika ia bangkit untuk berjalan. Saya benar-benar tidak tega melihatnya begitu, maka sebisa mungkin sepanjang pagi saya terus menemaninya berbaring di kamar orang tua saya. Kakak saya sempat memakaikan kain untuk menghangatkan perutnya yang kosong dan dingin karena berbaring di lantai.Â
Kami memang sempat membawanya ke dokter untuk diperiksakan karena sudah 3 hari lamanya Brownies menolak untuk makan, daan setiap kali ia makan pasti dimuntahkan. Di dalam mobil dalam perjalanan ke dokter, Brownies masih terlihat bersemangat memandang keluar mobil dari jendela seperti yang biasa ia lakukan jika naik mobil. Saya senang sekali melihatnya demikian ketika melihat ia senang walaupun dia sakit.Â
Namun apa boleh dikata, ketika akhirnya tanggal 26 Januari kemarin yang bertepatan dengan tahun baru imlek Brownies menyerah pada penyakitnya dan meninggal di waktu yang saya tidak ketahui. Sewaktu hendak berangkat pergi meninggalkan rumah, papa saya sempat berkata bahwa mungkin hari itu adalah hari terakhir Brwonies. Saya sendiri hanya mengatakan ‘Ya ga apa-apa…setidaknya saya tidak perlu melihat saat-saat ia meninggal’ saya memang merasa tak akan mampu melihatnya. Dan benar saja, ketika pulang kerumah setelah kakak saya mengabarkan Brownies sudah meninggal saya memutuskan untuk tidak ikut mengubur jenasahnya. Saya ga akan mampu menahan tangis melihat ia dikuburkan. Hanya melihat sekilas jenasahnya dan sempat mengelusnya untuk yang terakhir kali sudah membuat leher saya sakit menahan tangis.
Sebuah hal yang mengesankan saya ketika mendengar berita kematian Brwonies dari kakak saya adalah ketika kakak saya menceritakan saat-saat kematian Brownies, anjing saya yang lain bernama Conan (yang adalah anjing kesayangan saya) yang ‘memberitahukan’ kakak saya bahwa Brownies sudah meninggal. Ia mengatakannya dengan cara mendatangi kakak saya yang saat itu berada di lantai dua rumah saya sedangkan Brownies ada di lantai satu ketika meninggal. Ikatan Brownies dengan Conan memang lebih erat, karena keduanya sempat beberapa tahun berteman akrab sebelum seekor anjing bernama Peggy bergabung dengan mereka dan melahirkan 4 anak dengan Brownies. Semenjak kehadiran anak-anaknya, Brownies memang agak tersingkir dari keberadaannya sebagai anjing kesayangan. Namun kami masih menyayanginya karena ia adalah anjing pertama yang kami pelihara. Ikatan Brownies dengan Conan memang cukup kuat, karena Conan bisa dibilang adalah pembela Brownies saat ada anjing lain menyerang. Hal ini memang terjadi ketika rumah saya masih di daerah Kampung Ambon Jakarta Timur. Brownies sempat pulang kerumah dengan keadaan terluka di bagian belakangnya. Dan kami mengetahui saat itu ia memang berkelahi dengan anjing lain dan Conan tidak bersamanya saat itu. Dan keesokan harinya saat kakak saya membawa Brownies dan Conan berjalan-jalan mengelilingi komplek mereka bertemu anjing yang menyerang Brownies. Saat itu juga Conan berkelahi dengan anjing yang berwarna putih itu lalu memojokkannya di selokan dan balas menggigit bagian belakang anjing itu, persis seperti yang dilakukan anjing putih itu kepada Brownies sebelumnya. Begitulah yang diceritakan kakak saya. Saya sangat terkesan dengan kedekatan kedua anjing ini. Hingga saat inipun saya merasa kalau Conan masih mencari keberadaan Brownies yang menghilang. Dan itu membuat saya sedih melihatnya.
Walaupun begitu ada sebuah hal yang sempat saya sesali ketika sebelum Brownies meninggal, yaitu ketika suatu siang 2 hari sebelum Bronies meninggal saya sempat memarahi dia karena suara tangisannya yang membangunkan tidur siang saya. Â Kini saya sangat menyesalinya karena saya belum sempat meminta maaf pada Brownies mengenai kesalahan saya itu. Saat ini saya hanya bisa menangisi kepergiannya yang memang masih belum bisa saya lupakan. Saya berharap Brownies sudah bahagia di alam sana. Setidaknya ia tidak merasakan sakit lagi. Brownies Esteban, Anjing setia yang tak pernah mengeluh maupun melawan pada tuannya. Masih menunjukkan sikap setianya dengan merawat semua tuannya yang sedang sakit. Brownies si suster, begitulah julukan kami padanya karena sifatnya yang mau menunggui tuannya yang sedang sakit. Yang bisa saya ingat saat ini adalah bekas luka gigitannya yang masih dan akan terus membekas di pergelangan tangan kiri saya. Ini akan menjadi tanda pengingat saya padamu, Brownies. Â Dan saya tidak akan pernah membencimu karena sudah melakukannya. Kamu tetap akan menjadi anjing pertama yang saya miliki. Biby sayang Brownies.
January 7th, 2009 -- Posted in Voce del Cuore |

 Dengan maaf bukan berarti kalah.
 Dengan maaf akan terlihat kalau kita hanya manusia biasa yang pasti membuat kesalahan.
 Dengan maaf menunjukkan kedudukan manusia yang setara.
 Dengan maaf kita diingatkan untuk mengakui kesalahan kita.Â
Dengan tolong orang lain dapat melihat ketulusan kita.
Dengan tolong orang lain dapat melihat kesungguhan kita.
Dengan tolong akan memperlihatkan bahwa manusia tak semua dapat dilakukan sendiri.
Dengan tolong kita mengajarkan orang lain untuk bersikap sopan.
Dengan terima kasih akan memperlihatkan bahwa manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal budi.
Dengan terima kasih kita membuat orang lain gembira karena dapat membantu.
Dengan terima kasih kita membuat diri kita sendiri tersenyum.
Dengan terima kasih kita akan merasa cukup dengan yang sudah diberikan.
Dengan terima kasih kita diingatkan mengenai keberadaan orang lain yang lebih penting.
Demikianlah tiga kata penting di dunia ini. Dengan ketiga kata tersebut diharapkan dunia dapat menjadi tempat yang lebih nyaman bagi sesama. Tak perlu rasa malu atau segan, tak perlu menilai tua atau muda maupun status sosial, dengan ketiga kata itu semua batasan akan lenyap.
Dan kata favorit saya adalah Terima Kasih, karena  terima kasih adalah kata yang diwajibkan dalam setiap agama. Dan saya mengganti kata terima kasih dengan kata bersyukur (Give Thanks). Jangan pernah lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah didapat dan apa yang sudah terjadi. So, which one your fave?
December 16th, 2008 -- Posted in Voce del Cuore |

Â
Since when life become fair?
when you want a pen but they give you pencil
complimentary become subtitution
Â
Since when life become fair?
when you already give your best but no one admit it
the best become the worst
Â
Since when life become fair?
when  you always there for them but they don’tÂ
someone become nobody
Â
Since when life become fair?
when you give your life to something you love most but someone crash it
sweetness become bitterness
Â
Does anyone told you that life is not fair?